Berita Kajian

Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa

Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa

Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa – Oleh Sri Wulandari Siswi SMA Muhammadiyah 2 Bangil.


Sinarmu.co – SMA Muhammadiyah 2 Bangil (SMAMUBA) pada jam mata pelajaran Kemuhammadiyahan melakukan sebuah kolaborasi. Fifie Umar selaku Guru pengajar Kemuhammadiyahan mengajak Sueb Rizal untuk memberikan wawasan kepada peserta didik di SMAMUBA. Sueb Rizal adalah tokoh Muhammadiyah di kota Bangil dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SD Muhammadiyah Bangil. Ia berhasil mengembangkan sistem Sekolah Kreatif di SD Muhammadiyah itu.

Pelajaran Kemuhammadiyahan tersebut diikuti seluruh siswa, mulai dari kelas X hingga kelas XII di musholla SMA Muhammadiyah 2 Bangil. Dalam kolaborasi ini, Sueb Rizal memberikan ilmu, sebuah motivasi yang diambil dari lagu Mars Pemuda Muhammadiyah. Di dalam lagu itu terdapat 3 bait lirik, beliau menguraikan dan mengambil kaidah-kaidah pokok di setiap bait. Mengapa beliau memilih lagu tersebut? Hal itu dikarenakan siswa-siswi SMA Muhammadiyah merupakan pemuda-pemudi Islam yang nantinya akan meneruskan syariat-syariat Islam dan menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Bait pertama berbunyi: Kita Pemuda Muhammadiyah, Qur’an dan sunnah dasar hidup kita, Membangun dengan ilmu dan amal dalam jihad fisabilillah.

Pembicara menggarisbawahi bahwa kita semua adalah Pemuda Muhammadiyah. Seperti lambang Muhammadiyah yang memiliki 12 sinar matahari, melambangkan semangat kaum hawariy yaitu dua belas sahabat Nabi Isa a.s yang senantiasa siap berjuang demi keilmuan agama Islam. Jika kita berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Jihad bukanlah hanya pergi berperang, tetapi menuntut ilmu dengan pergi ke sekolah disertai niat yang benar juga merupakan berjihad.

Bait kedua berbunyi: Teguhkan sikap hidup kita Amar ma’ruf nahi munkar Rela berkorban jiwa raga Wujudkan masyarakat utama.

Sueb menguraikan, di pelajaran Kemuhammadiyahan kita tidak asing lagi dengan kalimat “amar ma’ruf nahi munkar” karena di pelajaran Kemuhammadiyahan ini mengajarkan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan meninggalkan apa yang dilarang sesuai dengan syariat Islam. Seperti pada Bab Tajdid di situ diterangkan tentang tahayul, bid’ah, dan khurafat. Tahayyul yang artinya percaya terhadap sesuatu yang tidak benar, contohnya percaya akan adanya Nyi Roro Kidul.

Bid’ah yang artinya mengada ada ajaran yang tidak ada contohnya dari Nabi atau dari ajaran Islam yang murni, contohnya seperti mengaji di kuburan atau meminta do’a kepada makam makam ulama atau wali. Dan yang terakhir khurafat yang artinya percaya pada tanda-tanda alam yang dikaitkan dengan nasib hidup, contohnya menabrak kucing hitam berarti akan mendapatkan sial. Dan semua hal itu merupakan perbuatan perbuatan yang mengacu kepada kesyirikan. Dengan kita mempelajari syariat-syariat islam maka kita akan mewujudkan masyarakat utama Islam yang sebenarnya.

Bait terakhir berbunyi: Slalu siap sedia slalu bergembira Masa depan hidup kita Berlomba-lomba dalam kebaikan Indonesia kita jaya !!

Sueb Rizal berkata, jika kita melakukan kebaikan maka tidak akan kebaikan itu tidak dibalas selain dengan kebaikan pula. Sesuai dengan Q.S. Ar Rahman ayat 60 yang berbunyi هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)”. Pemateri juga menaruh harapan besar kepada siswa-siswi SMA Muhammadiyah kalau kelak mereka akan memimpin bangsa dengan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang menegakkan syariat-syariat Islam.

Kisah Mahasiswa dan Pemuda di NTT

Sebelum acara kolaborasi ini ditutup, Fifie menambahkan sebuah cerita yang pernah ia baca dalam sebuah buku. Isi buku itu menceritakan sebuah Desa di NTT yang masih tertinggal dan masih banyak kekurangan, baik di bidang ekonomi maupun pendidikan. Hingga pada suatu hari kedatangan sekelompok mahasiswa yang melakukan KKN di desa itu.

Anak-anak desa yang haus dengan ilmu begitu antusias untuk mengajukan berbagai macam pertanyaan kepada para mahasiswa, seperti bagaimana suasana di luar lingkungan mereka dan pertanyaan lainnya. Di hari-hari berikutnya, ada satu anak yang paling rajin mendatangi tempat tinggal para mahasiswa untuk meminta diajari mengaji. Ternyata anak ini memiliki ibu yang berasal dari Bugis dan beragama Islam. Seorang mahasiswi yang menyadari bahwa anak ini memiliki kecerdasan melebihi anak-anak yang lain, ia berinisiatif ingin membawa anak itu ke Jakarta untuk disekolahkan. Namun sayang, paman bocah itu melarang sang bocah keluar dari desanya dengan alasan harus mengurus neneknya. Akhirnya diambil jalan tengah, anak itu tetap disekolahkan oleh sang mahasiswi di tempat yang tidak jauh dari kawasan desa itu. Mahasiswi ini membiayai sekolah dan kost si bocah.

Baca juga:
4 Akhlak Rasulullah Ini Untuk Ditiru Generasi Muda Masa Kini

Tidak hanya itu, sang mahasiswi juga masih sering ke NTT untuk mengunjungi si bocah, hingga pada saat adanya pandemi covid, kunjungan ke NTT agak terhalang. Ketika ada kesempatan melakukan perjalanan, sang mahasiswi kembali berkunjung ke NTT untuk menjenguk si bocah, tetapi alangkah kagetnya karena dia tidak dapat bertemu dengan anak itu. Di tempat kostnya tidak ada, di sekolahnya juga tidak ada. Dicari dimana-mana juga tetap tidak diketemukan. Hingga terdengat berita bahwa anak itu sekarang sudah menjadi preman. Sebuah keadaan yang tidak terlalu mengejutkan, karena memang lingkungan di sana sangat memprihatinkan. Tempat judi, warung minuman keras, dan tempat-tempat maksiat sangat mudah diakses oleh siapapun.

Dari cerita tersebut Fifie berpesan, bahwa kita harus pintar-pintar dalam memilih lingkungan karena dari lingkungan yang baik itu akan membentuk kepribadian seseorang menjadi baik, begitu juga sebaliknya. Sama seperti harapan pemateri, ia pun juga menaruh harapan besar kepada siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Bangil bahwa kelak mereka akan memimpin bangsa dengan menjadikan bangsa yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Acara kolaborasi ditutup Sueb Rizal berpesan, “Jangan pernah bosan akan ilmu, sisihkan minimal 2 jam dalam sehari untuk membaca buku. Seperti presenter Najwa Shihab, presenter favorit saya, ia tak pernah absen untuk datang ke perpustakaan ketika ia bersekolah. Ia gunakan waktu untuk membaca di perpustakaan, jangan sampai dalam satu hari itu ia tidak mendapat ilmu baru,” tegas Sueb di hadapan siswa-siswi SMA Muhammadiyah Bangil.

Penulis : Sri Wulandari
Siswi kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Bangil


#
Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa
Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa
Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa

About Author

sinarmu

Sinarmu.co | Mencerahkan semesta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *