Prof Biyanto Tegaskan Muhammadiyah Sebagai Islamic Movement di Gelaran Musypimda Muhammadiyah Kabupaten Pasuruan, Ahad (26/10).
Sinarmu.co – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pasuruan telah sukses menggelar Musyawarah Pimpinan Daerah (MUSYPIMDA) pertama tahun 2025 di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kabupaten Pasuruan.
Acara penting yang mengusung tema “Revitalisasi Gerakan: Mengokohkan Dakwah, Memajukan Kabupaten Pasuruan” ini dihadiri oleh seluruh jajaran PDM, majelis, lembaga, organisasi otonom tingkat daerah, dan perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Pasuruan.
Puncak acara ditandai dengan kehadiran Prof Dr Biyanto MAg, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.
Dalam sesi keynote speech-nya, Prof Biyanto memberikan penekanan kuat pada tiga kata kunci utama dari tema Musypimda: revitalisasi gerakan, gerakan dakwah, dan kemajuan.
Prof Biyanto: Muhammadiyah sebagai Harakah
Prof Biyanto memulai paparannya dengan menegaskan kembali hakikat Muhammadiyah sebagai “Harakah,” atau Islamic Movement, gerakan Islam yang harus terus bergerak, layaknya matahari dan jarum jam. Ia menggarisbawahi bukti pergerakan global Muhammadiyah yang kini telah memiliki 32 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) di luar negeri.
Ia kemudian mengajak peserta untuk berkaca pada sejarah peradaban melalui kisah Rihlah Peradaban PWM Jawa Timur ke luar negeri. Ia mencontohkan Hagia Sofia di Turki, yang dahulunya gereja kemudian dijadikan masjid, serta bergeser ke Spanyol, di mana di Cordoba, masjid terbesar kedua dunia dulunya pernah berdiri sebelum akhirnya dibangun katedral gereja di tengahnya.
Kilas balik sejarah ini menjadi relevan dengan ayat Al-Qur’an, Surah Ar-Ra’du ayat 11 (“Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”) dan Ali Imran ayat 140 (“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia”).
“Sejarah menunjukkan adanya mudawalah, seperti roda yang berputar, ada masa jaya, jatuh, kalah, dan menang. Maka, ketika kita mulai turun, itulah saatnya diperlukan revitalisasi,” tegas Prof. Biyanto.
Dakwah Digital dan Kesejukan Gerakan
Mengenai kata kunci dakwah, Prof. Biyanto mengapresiasi fokus PDM Pasuruan pada pendekatan digital, yang juga menjadi perhatian utama PWM Jawa Timur untuk menjadikan gerakan Muhammadiyah lebih lincah.
“Membangun sistem keuangan digital, seperti yang disampaikan Ketua PDM, itu sangat penting,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa dakwah Muhammadiyah bersifat untuk semua kalangan dan harus dilakukan secara lentur dan lembut. Prof Biyanto mencontohkan bagaimana di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), NTT, dari 12.000 mahasiswa, 82% di antaranya adalah Kristen, dan Muhammadiyah diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar.
Amanat untuk Tuntaskan Program dan Semangat Berkemajuan
Menutup paparannya, Prof Biyanto mengingatkan amanat penting: “Cabang yang belum selesai programnya, itu dituntaskan sebelum Muktamar.”
Terakhir, ia menyoroti kata kunci kemajuan sebagai kata otentik yang dimiliki oleh Muhammadiyah. “KH. Ahmad Dahlan berpesan: Dadio Kiyai sing Kemajon (jadilah ulama yang berkemajuan). Mas Mansur mempopulerkan istilah ‘berkemajuan’, dan di Muktamar Solo, ada naskah Risalah Islam Berkemajuan,” pungkasnya, menegaskan bahwa kemajuan adalah identitas sejati gerakan Muhammadiyah.
Musypimda I PDM Kabupaten Pasuruan ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk mengkonsolidasikan kekuatan, memperkuat dakwah, dan mewujudkan kemajuan nyata bagi persyarikatan dan masyarakat Kabupaten Pasuruan.

