Perjalanan Sang Pencerah: Kyai Ahmad Dahlan di Bangil Pasuruan (1922)
Sinarmu.co – Tahun 1922, di tengah kesibukan dakwahnya yang luas, Kyai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah, memulai perjalanan penting dari Yogyakarta. Istri beliau yang setia, Nyai Siti Walidah, selalu menemani langkah perjuangan.
Tujuan mereka kali ini adalah Banyuwangi, untuk menguatkan cabang-cabang Muhammadiyah. Untuk mencapai ujung timur Jawa, ada satu persinggahan strategis yang tak boleh dilewatkan: Stasiun Bangil. Stasiun ini adalah jantung jalur kereta api yang menghubungkan Surabaya, Banyuwangi, dan Malang.
Di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Kyai Dahlan telah ditunggu oleh seorang sahabat lamanya, Haji Abdul Kahar, seorang pedagang kain yang tekun di pasar setempat. Mereka berdua memiliki semangat yang sama dalam menyebarkan kebaikan.
Malam itu, di rumah tingkat milik Haji Abdul Kahar di daerah Wetan Alun Kersikan, Kyai Dahlan dan Nyai Walidah beristirahat. Namun, bagi seorang mubaligh, tugas utama adalah berdakwah, mengenalkan ajaran Islam yang murni, berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Haji Abdul Kahar mengatur sebuah pengajian tabligh yang akan diasuh langsung oleh Kyai Ahmad Dahlan. Berita ini tersebar cepat, seperti angin. Bagi yang rindu ilmu, ini adalah kesempatan emas untuk mendengar ceramah dari sang pendiri.
Namun, tidak semua menyambut gembira. Sebagian masyarakat Wetan Alun Kersikan, yang khawatir ajaran baru akan ‘menyesatkan’ pandangan agama tradisional mereka, mulai berkumpul dengan niat untuk membubarkan pengajian itu.
Suasana mulai tegang. Di saat genting itulah tampil Muhammad Salim Nabhan, atau yang akrab dipanggil Kapiten Arab—seorang pemimpin lokal yang menjabat sebagai Kepala Desa. Beliau sangat disegani dan dipercaya oleh masyarakat.
Dengan kebijaksanaan seorang pemimpin, Kapiten Arab menenangkan massa. Ia menjelaskan dengan suara lantang, “Pengajian yang diasuh oleh Kyai Ahmad Dahlan di rumah Haji Abdul Kahar itu adalah Pengajian Al-Qur’an.”
Kata-kata Kapiten Arab didengar. Masyarakat yang tadinya menolak akhirnya memahami, bahwa yang diserukan adalah ajaran dasar agama. Kerumunan pun membubarkan diri dengan tertib, dan pengajian dapat berlangsung tanpa hambatan.
Pagi harinya, setelah menyampaikan ilmu dan menjalin silaturahmi, Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah melanjutkan perjalanan penting mereka. Kereta api uap membawa mereka dari Stasiun Bangil menuju Banyuwangi, menguatkan cabang-cabang Muhammadiyah yang telah tumbuh di sana.
Bangil, 14 Oktober 2025
Penulis : Sueb Rizal, M.Pd.
1. Wakil Ketua PDM Kab. Pasuruan Koordinator MPID; LSBO, LDK
2. Guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil
3. Kepala SMA Muhammadiyah 2 Bangil

