Diplomasi Shalawat: Menjemput Kemakmuran Dari Jantung Makkah – Tulisan Sueb Rizal, S.Ag., M.Pd. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pasuruan
Sebuah Pesan dari Pelataran Masjidil Haram
Siang itu, udara Makkah terasa begitu berwibawa. Kami, sebuah rombongan kecil, baru saja menuntaskan Thawaf Sunnah di Mathaf 4 Masjidil Haram. Di tengah kerumunan jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru bumi, sebuah pesan sederhana namun tajam meluncur dari lisan Mohammad Okbah, atau yang akrab kami sapa Pak Okbah.
“Jangan memukul!” pesan beliau singkat saat kami berdiri di halaman masjid.
Beliau kemudian menjelaskan sebuah prinsip hukum yang berlaku di sana: “Siapa yang memukul duluan, meskipun dia berada di pihak yang benar secara perkara, tetap dialah yang dihukum. Sementara orang yang dipukul tidak dihukum.”
Logika ini seketika membalikkan cara berpikir umum. Di Makkah, pengendalian diri berada di atas segalanya. Jika terjadi gesekan di tengah padatnya jamaah, penyelesaiannya pun jauh dari kata urat syaraf. Cukup dengan mengucap satu kalimat sakti: “Shollu ‘alaihi” (Bershalawatlah kepada Nabi).
Seketika, amarah yang semula mendidih luruh menjadi kedamaian. Keduanya pun bersalaman dan berlalu tanpa dendam. Inilah yang saya sebut sebagai Diplomasi Shalawat.
Dua Rahasia di Balik Kemakmuran
Selama di sana, saya merenung. Mengapa di tempat yang begitu padat, hampir tidak ada perkelahian? Mengapa Arab Saudi terlihat begitu makmur dan teratur mengelola jutaan tamu Allah setiap tahunnya? Analisa saya mengerucut pada dua sifat utama yang menjadi pilar keberkahan mereka:
Kejujuran (Transparency)
Sifat jujur melahirkan transparansi. Ketika segala sesuatu dikelola dengan kejujuran, tidak ada ruang bagi prasangka untuk tumbuh menjadi pertengkaran. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, yang mendekatkan pemimpin dengan rakyatnya, dan pelayan dengan tamunya.
Kekompakan (Unity)
Orang bisa sejalan menempuh tujuan jika ada gerakan sehati. Kemakmuran sebuah bangsa tidak mungkin dicapai jika para pemimpinnya berjalan sendiri-sendiri. Di Makkah, saya melihat sebuah orkestra manajemen yang luar biasa; semua komponen bergerak kompak untuk satu tujuan mulia: melayani tamu Allah. Tujuan seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul dengan kekompakan.
Membawa Ruh Makkah ke SMAMDA Bangil.
Dua sifat ini—Jujur dan Kompak—bukanlah sekadar teori manajemen, melainkan “Manajemen Langit” yang membawa kemakmuran bagi bangsa Arab. Dan kini, saya merasa memikul amanah besar untuk membawa ruh ini pulang ke tanah air.
Jika sifat jujur dan transparan menjadi pegangan kuat dalam mengelola SMAMDA Bangil, dan jika seluruh elemen sekolah mulai dari pimpinan hingga staf bergerak dengan satu hati (kompak), saya berkeyakinan penuh SMAMDA akan menjadi sekolah yang makmur dan maju.
Kemakmuran sekolah bukan hanya tentang gedung yang megah, tapi tentang keberkahan ilmu dan kesejahteraan jiwa orang-orang di dalamnya. Semoga Allah menguatkan pundak kami untuk menjalankan amanah ini.
Aamiin Ya Mujibbassailin.
Bangil, 14 Maret 2026

