Membangun Islam yang Menjadi Rahmat, termasuk bagi kaum Mustad’afin – Oleh M. Rafi Ardiansyah Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kabupaten Pasuruan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ.
يَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ حَتَّى يَأْتِيَنَا الْمَوْتُ، كَمَا قَالَ الله تَعَالى :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!
Hari ini, kita berdiri di bawah langit kemenangan. Langit yang bersih, seolah telah disapu oleh sebulan keikhlasan dan kesabaran. Udara terasa lebih ringan, sebab dosa-dosa telah kita tanggalkan dalam Ramadhan yang kini berganti dengan harapan yang suci.
Idulfitri bukan sekadar hari perayaan. Ia adalah hari kelahiran kembali. Hari ketika kita tidak hanya kembali kepada fitrah, tetapi juga kembali kepada misi luhur kita sebagai khalifah di bumi: menegakkan keadilan, membangun kesejahteraan, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun saudara kita yang tertinggal dalam derita dan kemiskinan.
Namun, tidakkah kita melihat? Di tengah kegembiraan ini, masih ada tangan-tangan yang menengadah, wajah-wajah yang memendam kesedihan, serta anak-anak yang menatap dunia dengan mata penuh tanya: Di mana letak keadilan? Mengapa di negeri yang kaya ini, masih ada yang kelaparan?
Maka hari yang mulia ini mari kita merenungi sebuah pertanyaan besar: Apakah kita telah menunaikan hak-hak sesama kita? Apakah kita telah menjadikan harta yang kita miliki sebagai cahaya yang menerangi kehidupan orang lain?
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Wahai jiwa-jiwa yang kembali Fitri!
Allah yang Maha Rahman tidak pernah membiarkan umat-Nya hidup dalam ketimpangan. Karena itu, dalam Islam, kekayaan bukan hanya tentang kepemilikan, tetapi tentang tanggung jawab.
Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Zakat adalah lentera yang menerangi dua jalan sekaligus: ia menyucikan jiwa si pemberi dan membebaskan si penerima dari belenggu kemiskinan. Ia bukan sekadar angka yang dikeluarkan dari harta, tetapi ia adalah jembatan yang menghubungkan hati dengan langit, dan manusia dengan sesamanya.
Kita lihat kembali bagaimana zakat bekerja dalam sejarah Islam. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, zakat dikelola dengan amanah dan keadilan, hingga pada suatu ketika, tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat, sebab kemiskinan telah musnah dari bumi mereka.
Namun hari ini, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, mengapa masih ada saudara kita yang lapar? Mengapa masih ada yang kehilangan harapan? Mungkin bukan karena Islam tidak memiliki solusi, tetapi karena kita belum menghidupkan zakat sebagai sistem, sebagai pilar utama dalam membangun kesejahteraan umat.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Wahai jiwa-jiwa yang kembali suci!
Jika zakat adalah kewajiban, maka infak dan sedekah adalah ladang amal yang tak berbatas. Setiap keping yang kita berikan, setiap rupiah yang kita sisihkan untuk kebaikan, tidak pernah hilang. Ia akan tumbuh, bercabang, dan berbuah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Infak bukan sekadar memberi, tetapi menghidupkan. Ia ibarat hujan yang menyirami tanah gersang, mengembalikan kehidupan, dan mengundang keberkahan yang tak terhingga.
Lebih dari itu, infak yang sejati bukanlah sekadar memberi kepada mereka yang membutuhkan, tetapi menciptakan sistem yang memungkinkan mereka berdiri di atas kakinya sendiri. Infak yang sejati bukan hanya mengalir seperti air yang hilang, tetapi menjadi mata air yang terus memancar, menghidupi dan menguatkan.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Wahai jiwa-jiwa yang tenang!
Hari ini, kita mengenakan pakaian terbaik. Tapi di luar sana, masih banyak saudara kita yang bajunya lusuh. Hari ini, kita menikmati hidangan terbaik. Tapi di luar sana, masih ada yang berbuka hanya dengan air mata.
Berapa banyak tangan yang menengadah di luar sana, berharap setitik kasih dari kita yang telah menikmati limpahan nikmat? Berapa banyak anak yatim yang menanti uluran tangan untuk sekadar merasakan hangatnya kasih sayang? Berapa banyak keluarga yang merayakan hari kemenangan ini dengan perut kosong dan air mata yang mereka sembunyikan dari dunia?
Kita menyebut Idulfitri sebagai hari kemenangan. Tapi kemenangan siapa? Apakah hanya milik mereka yang memiliki segalanya? Atau seharusnya juga milik mereka yang selama ini terpinggirkan, yang terlupakan dalam hiruk-pikuk kebahagiaan kita?
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Hadirin sidang Idulfitri yang dimuliakan Allah!
Hari ini adalah momentum untuk membangunkan kembali nurani kita yang mungkin telah lama tertidur. Hari ini, kita bukan hanya membersihkan diri dari dosa, tetapi juga membersihkan hati dari kebersikap acuh. Hari ini, mari kita hidupkan kembali rasa peduli, menghidupkan senyum di wajah mereka yang terpinggirkan, menjadikan Idulfitri sebagai hari di mana tak ada lagi air mata kelaparan, tak ada lagi kesedihan yang tak terhibur.
Maka, jangan biarkan Idulfitri hanya menjadi perayaan seremonial. Jadikan ia sebagai awal perubahan. Jadikan ia sebagai momentum untuk meneguhkan kembali janji kita kepada Allah, bahwa kita akan menjadi bagian dari perjuangan membangun ekonomi yang berkeadilan, menegakkan kesejahteraan bagi sesama, dan memastikan bahwa tak ada lagi anak-anak yang tidur dalam kelaparan di negeri yang diberkahi ini. keindahan sejati dari Idulfitri bukan hanya terletak pada gema takbir yang menggema di langit, tetapi juga pada kasih yang kita tebarkan di bumi.
Seorang Muslim tidak boleh miskin, jika ada orang muslim miskin berarti ada orang muslim kaya yang tidak menjalankan kewajibannya.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka yang tidak hanya taat dalam ibadah individu, tetapi juga aktif dalam membangun kesejahteraan sosial. Semoga kita tidak hanya menjadi Muslim yang baik untuk diri sendiri, tetapi juga Muslim yang memberikan manfaat bagi sesama.
Sebelum khutbah kami akhiri, mari sejenak mengangkat tangan, menundukkan kepala, merendahkan hati dan membersihkan jiwa, berdoa kepada Allah dengan sebaik-baiknya doa.
وَقَالَ تَعَالَىٰ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَٰنًا ۚ وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Demikian Khutbah dari Kami, mohon maaf atas segala kesalahan.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ، كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ، وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

