Muhammadiyah dan Urgensi Dakwah Digital Berkemajuan – Oleh Muhamad Haerudin Tokoh & Aktivis NU Cirebon
“Dadio Kiai sing kemajuan, ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”, Jadilah Kiai yang berkemajuan, jangan kenal lelah bekerja untuk Muhammadiyah.” (KH. Ahmad Dahlan)
Sinarmu.co – Muhammadiyah merupakan salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia dan dunia. Ormas keagamaan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 ini telah menyebar ke seantero dunia dengan berbagai torehan kemajuan yang luar biasa. Usia 113 tahun bagi sebuah ormas keagamaan tergolong usia yang matang untuk terus memperkuat jati diri organisasi, di mana Muhammadiyah selalu konsisten dalam misi dakwah di mana nilai-nilai Islam dan Indonesia senantiasa beriringan.
Sebagai salah seorang ulama, aktivitas KH. Ahmad Dahlan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas dakwah. Dakwah yang tidak hanya menggelegar dalam lisan, melainkan juga dalam tulisan dan perbuatan. Tidak berlebihan apabila Muhammadiyah pantas dianggap sebagai ormas keagamaan paling konsisten dalam mewujudkan dakwah yang bukan hanya sejuk, melainkan bermanfaat secara konkret ke tengah berbagai problem yang membelit umat. Muhammadiyah bermetamorfosis menjadi ormas keagamaan modern dengan progres pencapaian yang sangat impresif.
Organisasi Keagamaan Islam Terkaya
Muhammadiyah menjadi satu-satunya ormas keagamaan mewakili Islam yang mendapatkan predikat terkaya di dunia. Kekayaannya kini tidak kurang dari 450 triliun, mengelola tanah wakaf di lebih dari 20.000 lokasi, dengan tanah wakaf yang dikelola lebih dari 214.000 meter persegi, memiliki 12.600 lebih lembaga pendidikan mula dari Pesantren, sekolah, Perguruan Tinggi sampai Rumah Sakit, klinik, panti asuhan, perusahaan-perusahaan dan masih banyak lagi. Inilah pesan sekaligus misi konkret dakwah KH. Ahmad Dahlan yang betul-betul dipegangteguh oleh Muhammadiyah sehingga pantas menyandang ormas keagamaan yang berkemajuan. Bukan sekadar jargon, apalagi omong-kosong belaka.
Kini, manakala dunia diterjang oleh derasnya arus digitalisasi, Muhammadiyah melalui Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah terus berinovasi, untuk keperluan adaptasi dengan zaman dan jejaring dalam bidang dakwah. Itu artinya bahwa Muhammadiyah menghendaki sebuah lompatan jauh untuk menggapai target dakwah yang jelas yakni dengan menjaring, menyeleksi dan memperkuat kemampuan para da’i-da’iyah dalam digitalisasi dakwah. Karena itu, dakwah tidak lagi monoton pada dakwah konvensional-tradisional, melainkan akan diarahkan pada dakwah modern yang berbasis digital.
Urgensi Dakwah Digital
Dakwah berbasis digital ini sangat urgen, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di zaman yang semakin canggih ini, setiap orang akan mampu mengakses informasi secepat kilat hanya dalam ketukan jari melalui smartphone masing-masing. Kegandrungan dan kecepatan arus media sosial betul-betul tak terbendung. Karena itu, langkah strategis ini diambil oleh Muhammadiyah dalam rangka mewarnai jagat media sosial dengan konten-konten yang bermuatkan dakwah yang sejuk dan edukatif, sangat diperlukan terutama dalam rangka membentengi moralitas para generasi muda Muslim.
Terus terang, saya sebagai salah seorang yang bergelut dalam dunia dakwah dan media sosial merasa perlu menceburkan diri untuk terus memperkuat kemampuan digital. Apalagi kalau mengingat masih banyak problem dakwah-sosial yang membelit umat, terutama saya yang notabene hidup di Desa, di mana tingkat pendidikan, ekonomi, dan lainnya masih rendah. Oleh karena itu, Muhammadiyah melalui Lembaga Dakwah Komunitas harus terus memperkuat dakwah digital dan sosialnya sampai ke Desa-desa untuk terus mengkonkretkan pesan dan misi dakwah KH. Ahmad Dahlan sebagaimana saya kutip di atas.
Untungnya lagi, Muhammadiyah telah terbukti melahirkan para teladan penerus setelah KH. Ahmad Dahlan, di antara yang saya tahu misalnya Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, sosok mantan Ketua PP Muhammadiyah ini begitu sederhana dan bersahaja, sebagaimana Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah yang masih menjabat sekarang. Muhammadiyah juga perlu berbangga (bersyukur) mempunyai kadernya yang multitalenta siapa lagi kalau bukan Dr. Adi Hidayat (yang akrab disapa dengan sebutan UAH) yang sampai hari ini terus menebar spirit dakwah berkemajuan ala KH. Ahmad Dahlan. Semoga Muhammadiyah semakin maslahat dan bermanfaat.
Wallahu a’lam
Penulis: Muhamad Haerudin
Desa Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon
Kubangdeleg, 25 Desember 2025, 00.42 WIB

