Prof Biyanto Sampaikan Peran Global Muhammadiyah Pada Pertemuan PDM se-BALAPPAN di Jember
Sinarmu.co – Peran global Muhammadiyah semakin meluas, bahkan kini telah diakui secara resmi di beberapa negara maju. Hal ini diungkapkan oleh Prof Dr Biyanto MAg, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Dalam pertemuan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-BALAPPAN di City Forest & Farm H.M. Arum Sabil, Jember, Prof Biyanto menyampaikan bahwa Muhammadiyah saat ini sudah hadir di 31 negara.
“Bahkan [Muhammadiyah] diakui resmi oleh negara di AS, Jerman, Jepang, Malaysia, dan Australia,” ujar Prof Bi sapaannya.
Ia menyoroti bahwa salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, Tapak Suci, memiliki peran krusial sebagai media dakwah di level internasional. Tapak Suci, sebagai seni bela diri, dapat dipelajari oleh siapapun tanpa memandang latar belakang, dan melalui interaksi tersebut, nilai-nilai Islam dapat disalurkan secara luwes.
Filosofi Luwes dan Luas
Prof Biyanto juga memaparkan kembali pemikiran penting dari mendiang tokoh Muhammadiyah, Prof Malik Fadjar, mengenai karakter yang harus dimiliki seorang anggota Muhammadiyah.
“Menjadi Muhammadiyah haruslah yang luwes dan luas,” tegasnya.
Karakteristik “luas” yang dimaksud mencakup:
- Luas pemahaman agamanya
- Luas cakrawala berpikirnya
- Menguasai ilmu lintas disiplin
- Luas jaringannya, sehingga bisa diterima oleh siapa saja.
Menurutnya, jika seseorang memiliki keluasan, maka ia akan menjadi luwes dalam menyikapi segala hal.
Prof Biyanto: Pendidikan Kunci Perubahan Bangsa
Lebih lanjut, Prof. Biyanto menyampaikan pandangannya mengenai pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk membangun bangsa adalah dengan memperbaiki pendidikannya.
“Hanya dengan pendidikan bangsa ini bisa berubah menjadi bangsa yang maju,” kata Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia itu.
Mengutip ajaran Al-Qur’an tentang konsep mudawalah atau perputaran, di mana suatu kaum bisa berada di bawah dan suatu saat akan berputar ke atas, ia menjelaskan bahwa posisi Islam saat ini bisa dikatakan masih berada di bawah. Untuk bergerak naik, pendidikan memiliki peran sentral yang sangat penting.
Menutup paparannya, Prof. Biyanto memberikan penekanan dengan sebuah adagium terkenal: “If there is a will, there is a way“ (Jika ada kemauan, di situ ada jalan).

